“Lingsir Wengi”
Hanoi, 10 Shafar 1423
Oleh: Roni Basa
Lingsir Wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang kang ngeriduhi ati
Kawitane mung sembrono njur kulina
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno…
Saat terbit senja hamparan kesah mulai meraja
Hari setengahnya selesai sudah dilalui
Melalui jendela, warna emas kelam memasuki ruang
Gemawan masih ada yang menggantung di langit
Semilir angin menyusup sela-sela pintu rengkah
Derit bunyi pintu terkuak…menyayat lirih
Segelas kopi menjaga hangat dalam dekapan
Ada sesajian lainnya terhantar menggoda
Pada saat itu, direlung-relung kamar, paras ayu tampil
Segala santun, semua sapa, binar tatap mata, dan anggun mewujud
Sayang tersia-sia jika tidak segera direguk dengan sahaja
Doh dahaga jiwa, hengkanglah…ia telah datang…menjelang…
Semua tampak dalam bingkai kaca jendela luar sana
Udara mulai terasa sesak menunggu datang dan sempurnanya dewi
Jejalan ratusan bimbang serentak mengepung sekitar
Perlahan, samar, menguap dari permukaan lantai dingin jelmaa-an rupa tiba
Lingsir wengi
Rino wengi sing tak puji ojo lali
Janjine mugo biso tak ugemi
Nanging duh tibane aku dhewe’ kang nemahi
Nandang bronto kadung loro…
Sudah, …sudah…mantra-mantra pinasihan sudah dirapalkan
Dupa telah disuguhkan sebagai perantara dunia dan semesta
Kembang-kembang syarat pemanggil asmara turut serta
Hadirlah dalam aroma malam semerbak dupa dan wewangian durjana
Dewi durga telah ijinkan semua bersua saat tengah malam tiba
Maka datanglah, sapalah duka, jadikan suka merajai kata-kata
Wahai pemilik malam kelam, jadikan gelap sebagai pewarta
Wahai pemilik paras menyerupa jelaga, jangan ragu rasukilah raga
Pedih, lelah , penat, mimpi, kesah, jengah berbaur padu
Selanjutnya, cinta menguasai samsara yang terus berputar
Rupa cantik, ayo…lumatlah semua yang ada, jelang memudar malam tujuh rupa
Air dalam bejana bergerak lembut sebagai pertanda kehadiran
Semakin beriak, seakan mendidih laksana perwakilan dalam sukma
Lingsir wengi
Sambat sambat sapa
Sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebat…
Waktu berikutnya, kabut tipis luruh menyelimuti sebagian raga
Bayang-bayang jernih mata sang jelita termuat disitu
Semakin erat lukisan indah tentang nona berlabuh pada tambatan jiwa
Mengusik suka, mengantarkan kata-kata menemui keindahan dan gemerlap
Rindu sebenarnya, lengang terasa diujung gelisahnya perasa
Nama megah sang dara tidak sanggup terkata dengan seksama
Larik-larik syair ini merupakan puja puji
Memuja cantik dengan segenap sukma
Memuji jelita dalam gulita
Maka datanglah dewi kegelapan, hadirlah bersamaan dengan menguapnya doa
Murca, lenyap, lenyapkan duka…alirkan semua lara pada air kemanten
Hingga jelang bagaskara datang tetaplah semayam di kelam
Tidak ada lagi sergah untuk kal ini, hanya kita, berdua…
Lingsir Wengi/Sepi durung biso nendro/Kagodho mring wewayang kang ngeriduhi ati/
Kawitane mung sembrono njur kulina/Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno…
Perlahan lantai jejakan sedingin salju,
Penanda suram hadir dalam balutan jelita
Wahai bidadari-bidadari surga, kisah enggan menghantarkan kesana
Candu narwastu membuat jelaga serupa indah dengan jernihnya nirwana
Janji kepadanya ialah darah
Prasasti dengannya adalah nanah
Candi untuknya merupakan petuah
Maka, inilah mantra-mantra tengah malam
Panggilan atas nama hitam terpahat
Enam ratus enam puluh enam kali harapan terpanjat
Biarlah bintang-bintang tidak lagi gemerlapan menghias
Enyahlah hangat yang tidak juga kunjung membawa damai
Tergantikan hanya dengannya…pemilik gelap
Lingsir wengi/Sambat sambat sapa/ Sliramu tumeking sirno/Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro aku lagi bang wingo wingo/Jin setan kang tak utusi /Dadyo sebarang/
Wojo lelayu sebat…
Durga, akhirnya datang…berada tepat disisi raga
Semerbak harum kembang-kembang rupa dan kamboja
Tergerai rambutnya menyentuh dasar lelap
Tanpa kata hanya jelma yang ada
Segera tak lama setelah kesadaran lenyap,menjura
Cermin usang berbingkai ukiran malaikat pada dinding, retak
Senyum indah itu menyeruak
Meneduhkan semua keluh selama ini
Membawa ribuan asmara tanpa sisa
Peluklah duka dewi, hingga menjadi karma
Selalu, akan selalu senandung ini disajikan
Selalu, akan selalu untukmu…
Cinta, cinta jelang tengah malam kepadamu…
Lingsir wengi/Rino wengi sing tak puji ojo lali/Janjine mugo biso tak ugemi/
Nanging duh tibane aku dhewe’ kang nemahi/Nandang bronto kadung loro..
Lelap..kelam..indah..lirih..
About this entry
You’re currently reading ““Lingsir Wengi”,” an entry on imron rosidin
- Telah Diterbitkan:
- 24/01/2011 / 16:35
- Kategori:
- Syair
- Kaitkata:
No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]